Terpaku di depan TV?

Hidup di era digilog memang mendatangkan tantangan tersendiri dalam hal pengasuhan anak. Di masa ini, beragam peranti canggih berlayar mengepung, mencoba mengambil hati anak-anak yang belum lagi mantap fondasi nilai-nilai keagamaannya. Psikolog keluarga, Elly Risman Musa Spsi memberikan panduan praktis buat anda yang mendapati si kecil terpaku di depan TV.

Pahami terlebih dahulu manfaat dari peranti canggih yang hendak disodorkan kepada anak. Ini berlaku untuk semua jenis alat elektronik, termasuk televisi, ponsel, komputer, music player, dan game station. “Ketika diberikan kepada anak, pastikan anak juga tahu tujuan kepemilikan barang tersebut,” ujar psikolog anak Elly Risman Musa SPsi.

Beri batasan penggunaannya. Kapan ia boleh memakai dan saat apa si kecil harus menyingkirkan peralatan elektronik tadi. “Untuk anak yang lebih besar, Anda dapat membuat kesepakatan bersama batasan-batasannya,” kata Elly yang juga pengasuh kolo Bunda dan Konsultasi di harian Republika.

Untuk anak prasekolah waktu menonton cukup satu jam sehari. Yang sudah bersekolah boleh menonton kurang dari dua jam. “Anak usia SD dapat diajak berdialog acara apa yang boleh ditonton dan untuk berapa lama,” ucap Elly dari Yayasan Kita dan Buah Hati.

Jadikan TV sebagai media belajar. Duduklah bersama anak dan diskusikan isi tayangan anak. “Agar anak tidak menonton sembarang acara, jangan letakkan TV di kamar anak,” saran Elly.

Siapkan kegiatan pengganti agar anak tidak melulu kemballi ke TV, PlayStation, atau internet. Pastikan kegiatan alternatifnya sama serunya. Misalnya, dengan bermain bersama teman di lingkungannya. Tanpa aktifitas pengganti yang menarik, sulit membuat anak terlepas dari lem yang merekatkannya pada TV.
Ilustrasi. (foto: femalesia)
Agar anak percaya diri untuk tidak mengikuti arus teman-teman yang menonton TV tanpa batasan, suntikkan nilai-niali positif padanya. Berikan alasan mengapa ia perlu membatasi jam menonton. Dengan begitu, si kecil bisa menangkis ejekan teman seputar ketidaktahuannya tentang acara-acara TV yang memang diperuntukkan bagi anak seusianya.

Tanamkan nilai-nilai keluarga secara berulang. Dengan disiplin dan kasih sayang, anak akan lebih mudah mengerti apa yang patut dan tidak dilakukannya. “jadikan anak percaya diri dengan paham yang dianut keluarga,” tandas Elly yang kerap menjadi narasumber pengasuhan anak dan konsultasi seks anak di dalam dan luar negeri.

Cari alternatif, agar tidak melulu di depan televisi, ajaklah anak mencari kegiatan laternatif yang lebih seru.
(sumber: Indahtari-Republika)
Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
Melony Fisher
AUTHOR
May 2, 2018 at 5:07 PM delete


Yes! Finally something about %keyword1%. itunes sign in

Reply
avatar